PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan efek yang awalnya didirikan di Jakarta pada tanggal 22 Februari 1993 dengan nama PT Istethmar Finas Securities. Pada tanggal 13 September 1999 berubah menjadi PT Ludlow Securities dan selanjutnya berganti nama menjadi PT Reliance Securities dan bergabung ke dalam Reliance Group pada tanggal 7 Maret 2003.
Pada tanggal 13 Juli 2005 Perseroan mencatatkan sahamnya pada Bursa Efek Indonesia dengan kode saham "RELI". Pada 17 April 2017 Perseroan berganti nama menjadi PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.
Contact Info
SOHO WESTPOINT
Kota Kedoya, Jl. Macan Kav 4-5
Kedoya Utara, Kebon Jeruk
DKI Jakarta 11520
BEI Jatuhkan 3.040 Sanksi ke 453 Emiten Sepanjang 2025
unknow
02 Mar
EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menjaga kualitas perusahaan tercatat lewat pengawasan kepatuhan yang ketat imbas maraknya kasus pelanggaran pasar modal dan penggalakkan transparansi pasar yang dilakukan Otoritas Pasar Modal RI belakangan ini.
Dalam keterangan tertulis Senin (2/3/2026), Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan bahwa bursa rutin memantau kewajiban emiten dan menjatuhkan sanksi sesuai Peraturan Bursa Nomor I-H jika terjadi pelanggaran, demi menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien.
Dijelaskan Kautsar Primadi juga bahwa data sanksi ini diperbarui setiap bulan melalui situs resmi BEI dan dapat diakses publik.
“Informasi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi serta mendorong perbaikan kualitas perusahaan tercatat melalui investor stewardship,” pungkas Kautsar.
Ribuan Sanksi Sepanjang 2025
Selama 2025, BEI menjatuhkan 3.040 sanksi kepada 453 perusahaan tercatat. Kasus paling banyak berasal dari keterlambatan penyampaian laporan keuangan dan laporan bulanan registrasi efek.
Sanksi atas laporan keuangan naik tipis 2 persen menjadi 1.223 kasus. Namun jumlah perusahaan yang terdampak justru turun 20 persen menjadi 196 emiten.
Untuk laporan bulanan registrasi efek (terkait data pemegang saham), jumlah sanksi turun 10 persen menjadi 577 kasus, dengan 134 perusahaan tercatat terdampak atau turun 29 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, sanksi terkait permintaan penjelasan naik 16 persen menjadi 454 kasus. Jumlah perusahaan yang terkena juga bertambah menjadi 214 emiten.
Di sisi lain, pelanggaran kewajiban free float turun 14 persen menjadi 386 kasus. Public expose tahunan juga menunjukkan perbaikan dengan penurunan sanksi 11 persen menjadi 211 kasus.
Adapun, kategori lain-lain, yang meliputi pembayaran Annual Listing Fee (ALF), laporan kesiapan dana jatuh tempo obligasi dan/atau sukuk, laporan eksplorasi pertambangan, hingga kesalahan penyajian informasi makin naik 33 persen menjadi 189 kasus.
Awal 2026: 294 Sanksi dalam Sebulan
Memasuki Januari 2026, BEI sudah menjatuhkan 294 sanksi kepada 142 perusahaan tercatat. Sebanyak 57 persen di antaranya berasal dari kewajiban laporan keuangan dan public expose.
Beberapa perusahaan menerima Surat Peringatan Tertulis III dan suspensi akibat terlambat menyampaikan laporan keuangan interim per 30 September 2025. Ada pula Peringatan Tertulis II dan denda bagi emiten yang belum menggelar public expose tahunan hingga batas waktu 31 Desember 2025.
Tak Hanya Sanksi, Ada Pembinaan
Pengawasan tidak berhenti pada hukuman administratif. Sepanjang 2025, BEI juga menggelar sosialisasi rutin mengenai peraturan pasar modal, penggunaan sistem pelaporan elektronik SPE-IDXNet, hingga penyampaian laporan keuangan berbasis XBRL.
Selain itu, bursa mengadakan compliance refreshment untuk emiten dengan tingkat kepatuhan rendah, serta berbagai pertemuan one-on-one, seminar, workshop, dan roadshow guna meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas basis investor.